FORMULASI GEL ANTI JERAWAT DARI EKSTRAK ETIL ASETAT GAMBIR

Rezka Ananda Inayah
Program Studi S1 Farmasi
STIKES Borneo Lestari Banjarbaru
I.       PENDAHULUAN
    Jerawat adalah penyakit kulit yang paling banyak terjadi dan ditandai dengan bintik kecil seperti komedo hingga bintik besar berisi nanah pada bagian pilosebaseus (folikel rambut, pangkal rambut dan kelenjar sebaseus) (Masterson, 2018). Jerawat merupakan masalah kesehatan yang cukup serius bagi sebagian orang dengan tanda inflamasi dan dapat terjadi kekambuhan yang sering. Sekitar 85% kejadian jerawat muncul saat usia 12 hingga 25 tahun, namun saat ini dapat terjadi sebelum usia 12 tahun karena masa pubertas yang lebih awal (Gollnick and Dreno, 2015).
Jerawat timbul karena banyak faktor pencetus diantaranya produksi kelenjar sebaseus yang meningkat, hiperkornifikasi duktus sebaseus, kolonisasi bakteri Propionibacterium acnes, hiperproliferasi sel keratosit, hormon androgen yang memicu peningkatan produksi sebum, genetik, rambut berminyak, stres, kosmetik, dan obat-obatan (Gollnick and Dreno, 2015; Patel et al, 2015; Prasad, 2016).                                                                             
Mekanisme timbulnya jerawat yakni diawali peningkatan produksi minyak oleh kelenjar sebaseus. Sebum yang dihasilkan keluar melalui saluran pilosebaseus dan mencapai permukaan kulit. Selama melewati saluran pilosebaseus, sebum memasok asam linoleate ke keratinosit dari folikel rambut. Asam lemak bebas akan terbentuk oleh rangsangan faktor pencetus jerawat sehingga asam lemak bebas memicu produksi sitokin inflamasi seperti IL-8, IL-6, IL-1β dan TNFα yang menyebabkan peradangan dan peningkatan aktivitas keratinosit. Sebagai akibatnya, terjadi hiperkeratosis yang menumpuk, menyumbat dan asam linoleat yang dibawa sebum berubah menjadi komedo lalu komedo ini dapat semakin berkembang dan membentuk jerawat (Prasad, 2015; Tuchayi et al, 2015).                                                          
Adanya bakteri flora normal kulit seperti P.acnes, Propionibacterium granulosum, Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus dapat memperparah jerawat oleh sebab kombinasi akumulasi keratin, sebum dan bakteri P.acnes pada bagian pilosebaseus merangsang mediator proinflamasi, akumulasi sel T-helper dan neutrofil pada dermis kulit, dan menyebabkan peradangan, terbentuknya papula, pustula dan lesi (Tahir, 2010).                   
1          1  Rumusan Masalah
a.       Apa itu Jerawat?
b.      Bagaimana pengaruh jerawat bagi kesehatan kulit?
1.         2  Tujuan
a.       Mengetahui apa itu jerawat
b.      Mengetahui pengaruh jerawat bagi kesehatan kulit

II.    PEMBAHASAN
Salah satu penyakit kulit yang selalu mendapat perhatianbagi para remaja dan dewasa muda adalah jerawat atau dalam bahasa medisnya acne vulgaris. Penyakit ini tidak fatal, tetapi cukup merisaukan karena berhubungan dengan menurunnya kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan wajah penderita (Yuindartanto, 2009).                                           
 Acne vulgaris (jerawat) merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai folikelpilosebae (folikelrambut) yang rentan dan paling rentan dan paling sering ditemukan didaerah muka, leher, serta badan bagian atas. Acneditandai dengan komedo tertutup (whitehead) , komedo terbuka (blackhead), papula, pustula, nodus, dan kista (Smeltzer & Bare, 2002).                                                                                                                
Penyebab pasti timbulnya acne belum diketahui namun acneyang terjadi pada usia pubertas dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko yaitu: meningkatnya kadar hormon androgen, penggunaan,kosmetik, stres, personal hygiene yang buruk dan pola tidur yang tidak baikseperti tidur larut malam (Sleep Research and Treatment, 2006).                          
Adapun Berbagai faktor. Penyebab acnesangat banyak (multifaktorial), antara lain : genetik, endokrin, faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasea sendiri, faktor psikis, iklim, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), dan kosmetika (Victor, 2010). Angka kejadian acne vulgarisberkisar 85 % dan terjadi pada usia 14 -17 tahun pada wanita dan 16 -19 tahun pada laki laki, dengan lesi predominan adalah komedo dan papul. Acnesudah timbul pada anak usia 9 tahun namun puncaknya pada laki -laki terutama usia 17-18 tahun sedangkan wanita usia 16 -17 tahun. Acne vulgarisumumnya lebih banyak terjadi pada laki -laki dibandingkan dengan wanita pada rentang usia 15 -44 tahun yaitu 34 % pada laki -laki dan 27 % pada wanita (Jurnal Kedokteran Media Medika Indonesia, 2008)                                            
Kondisi tersebut mendorong untuk dilakukannya pengembangan penelitian antibakteri alami dari tumbuhan yang ada di Indonesia diantaranya adalah daun sirsak. Daun sirsak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat seperti P. acnes, S. epidermidis dan S.aureus. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah-sedang terhadap penghambatan pertumbuhan ketiga bakteri tersebut, dengan diameter zona hambat 10-20,3 mm pada rentang konsentrasi ekstrak 0,1-10% (Mulyanti dkk., 2015).                                                                                                         
American Academy of Dermatology mengeluarkan rekomendasi pada tahun 2007 bahwa restriksi kalori memiliki dampak pada pengobatan acnedan bukti-bukti yang cukup kuat untuk menghubungkan konsumsi makanan tertentu dengan kejadian acne vulgaris. Beberapa penelitian menemukan bahwa produk olahan susu memperburuk acne vulgaris. Produk olahan susu dan makanan lainnya, mengandung hormon 5 α reduktase dan prekursor DHT lain yang merangsang kelenjar sebasea. Selain itu, acne vulgarisdipengaruhi oleh hormon dan growth factors, terutama insulin-like growth factor (IGF-1) yang bekerjapada kelenjar sebasea dan keratinosit folikel rambut. Produk olahan susu mengandung enam puluh growth factors, salah satunya akan meningkatkan IGF-1 langsung melalui ketidakseimbangan peningkatan gula darah dan kadar insulin serum (Indrawan, 2013).                                     
Berdasarkan sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh tim peneliti dari Harvard School of Public Healtholeh Prof. Dariush Mozaffarian di Departemen Epidemiologi di HSPH, orang yang rajin meminum susu secara rutin tiap hari, diperkirakan pasti akan memiliki jerawat. Menurut para ahli itu, sepertinya pengolahan susu lah yang menjadi penyebab meningkatnnya kadar hormon dalam susu, hingga resiko untuk menjadi penyebab jerawat besar pula (Elsany, 2013). Dari survey dikawasan Asia Tenggara melaporkan kejadian terdapat 40-80% kasus jerawat, sedangkan di Indonesia, laporan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia, menunjukkan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun 2007 (Husna, 2013) Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics menemukan bahwa pola diet dan pola makan yang dilakukan seseorang mempengaruhi kemungkinan mereka memiliki jerawat. Wanita yang banyak makan makanan yang mengandung gula lemak jenuh, lemak trans, dan produk susu cenderung lebih berkemungkinan memiliki jerawat (Ananda, 2014). 
 Pola makan yang buruk dapat memperparah timbulnya jerawat. Sejauh ini, jerawat (acne vulgaris) dinyatakan berhubungan dengan indeks glisemik suatu makanan. Indeks glisemik merupakan satuan pengukuran peningkatan gula darah yang disebabkan oleh makanan tertentu. Konsumsi makanan dengan indeks glisemik yang tinggi (seperti Permen, Soda dan Soft drink, Es krim, Coklat, Biskuit, Sereal , gula halus, roti,pasta, dan makanan gorengan) secara terus-menerus dapat menyebabkan obesitas, diabetes, sakit jantung, tekanan darah tinggi, serta perubahan komposisi dan produksi sebum yang dapat memicu inflamasi serta jerawat pada kulit.Hal ini dapat terjadi dikarenakan makanan dengan kadar indexglikemik tinggi, bisa memicu fluktuasi atau naik turunnya hormon. Salah satunya adalah hormon insulin, yang bisa mendorong kemunculan sebum, salah satu Penyebab Jerawat (Winarno dan Ahnan 2014).

III. PENUTUP
a.                 Kesimpulan
Telah banyak tanaman yang diteliti dan terbukti memiliki aktivitas anti jerawat. Berdasarkan aktivitas tersebut, tanaman yang memiliki aktivitas anti jerawat antara lain A.millefolium, A.verox, B.aristata, C.sappan, C.sativa, C.sinensis, C.longa, C.xanthorrhiza, F.tataricum, L.sericea, M.charantia, P.nigrum, P.indica, P.granatum, R.officinalis, R.cordifolia, S.aromaticum dan Z. officinale.
b.               Saran
 Beberapa saran yaitu perlu adanya peningkatan pengetahuan terhadap jerawat, perlu memperhatikan  obat-obat yang digunakan dalam pengobatan jerawat untuk meminimalisir efek samping obat.


DAFTAR PUSTAKA

Ejournal Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 1. Februari 2015
Indrawan, Nanda. 2013. Hubungan Asupan Lemak Jenuh Dengan Kejadian Acne Vulgaris.
Smeltzer, Sussane C. & Bare, Brenda G (Ed). 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Edisi 8 Vol. 2. Jakarta: EGC
Tjekyan, R.M.S. (2008). Kejadian dan Faktor Resiko Akne Vulgaris. Jurnal Kedokteran Media Medika Indonesia Vol 43, No.1:37-43.
Winarno, F. G. & Ahnan, A. D. (2014).Jerawat: Yang Masih Perlu Anda Diketahui.Yogyakarta: Graha Ilmu
Yuindartanto, A.2009. Acne Vulgaris. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.




















Komentar

Posting Komentar