FORMULASI GEL ANTI JERAWAT DARI EKSTRAK ETIL ASETAT GAMBIR
Rezka Ananda Inayah
Program Studi S1 Farmasi
STIKES Borneo Lestari Banjarbaru
Email: rezkaananda22@gmail.com
I.
PENDAHULUAN
Jerawat adalah penyakit
kulit yang paling banyak terjadi dan ditandai dengan bintik kecil seperti
komedo hingga bintik besar berisi nanah pada bagian pilosebaseus (folikel
rambut, pangkal rambut dan kelenjar sebaseus) (Masterson, 2018). Jerawat
merupakan masalah kesehatan yang cukup serius bagi sebagian orang dengan tanda
inflamasi dan dapat terjadi kekambuhan yang sering. Sekitar 85% kejadian
jerawat muncul saat usia 12 hingga 25 tahun, namun saat ini dapat terjadi
sebelum usia 12 tahun karena masa pubertas yang lebih awal (Gollnick and Dreno,
2015).
Jerawat
timbul karena banyak faktor pencetus diantaranya produksi kelenjar sebaseus
yang meningkat, hiperkornifikasi duktus sebaseus, kolonisasi bakteri
Propionibacterium acnes, hiperproliferasi sel keratosit, hormon androgen yang memicu
peningkatan produksi sebum, genetik, rambut berminyak, stres, kosmetik, dan
obat-obatan (Gollnick and Dreno, 2015; Patel et al, 2015; Prasad, 2016).
Mekanisme timbulnya jerawat
yakni diawali peningkatan produksi minyak oleh kelenjar sebaseus. Sebum yang
dihasilkan keluar melalui saluran pilosebaseus dan mencapai permukaan kulit.
Selama melewati saluran pilosebaseus, sebum memasok asam linoleate ke
keratinosit dari folikel rambut. Asam lemak bebas akan terbentuk oleh
rangsangan faktor pencetus jerawat sehingga asam lemak bebas memicu produksi
sitokin inflamasi seperti IL-8, IL-6, IL-1β dan TNFα yang menyebabkan
peradangan dan peningkatan aktivitas keratinosit. Sebagai akibatnya, terjadi
hiperkeratosis yang menumpuk, menyumbat dan asam linoleat yang dibawa sebum
berubah menjadi komedo lalu komedo ini dapat semakin berkembang dan membentuk
jerawat (Prasad, 2015; Tuchayi et al, 2015).
Adanya
bakteri flora normal kulit seperti P.acnes, Propionibacterium granulosum,
Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus dapat memperparah jerawat
oleh sebab kombinasi akumulasi keratin, sebum dan bakteri P.acnes pada bagian
pilosebaseus merangsang mediator proinflamasi, akumulasi sel T-helper dan
neutrofil pada dermis kulit, dan menyebabkan peradangan, terbentuknya papula,
pustula dan lesi (Tahir, 2010).
1 1 Rumusan
Masalah
a. Apa
itu Jerawat?
b. Bagaimana
pengaruh jerawat bagi kesehatan kulit?
1. 2 Tujuan
a. Mengetahui
apa itu jerawat
b. Mengetahui
pengaruh jerawat bagi kesehatan kulit
II.
PEMBAHASAN
Salah satu
penyakit kulit yang selalu mendapat perhatianbagi para remaja dan dewasa muda
adalah jerawat atau dalam bahasa medisnya acne vulgaris. Penyakit ini tidak
fatal, tetapi cukup merisaukan karena berhubungan dengan menurunnya kepercayaan
diri akibat berkurangnya keindahan wajah penderita (Yuindartanto, 2009).
Acne
vulgaris (jerawat) merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai
folikelpilosebae (folikelrambut) yang rentan dan paling rentan dan paling
sering ditemukan didaerah muka, leher, serta badan bagian atas. Acneditandai
dengan komedo tertutup (whitehead) , komedo terbuka (blackhead), papula,
pustula, nodus, dan kista (Smeltzer & Bare, 2002).
Penyebab pasti
timbulnya acne belum diketahui namun acneyang terjadi pada usia pubertas
dipengaruhi oleh beberapa faktor resiko yaitu: meningkatnya kadar hormon
androgen, penggunaan,kosmetik, stres, personal hygiene yang buruk dan pola
tidur yang tidak baikseperti tidur larut malam (Sleep Research and Treatment,
2006).
Adapun
Berbagai faktor. Penyebab acnesangat banyak (multifaktorial), antara lain :
genetik, endokrin, faktor makanan, keaktifan dari kelenjar sebasea sendiri,
faktor psikis, iklim, infeksi bakteri (Propionibacterium acnes), dan kosmetika (Victor,
2010). Angka kejadian acne vulgarisberkisar 85 % dan terjadi pada usia 14 -17
tahun pada wanita dan 16 -19 tahun pada laki laki, dengan lesi predominan
adalah komedo dan papul. Acnesudah timbul pada anak usia 9 tahun namun
puncaknya pada laki -laki terutama usia 17-18 tahun sedangkan wanita usia 16
-17 tahun. Acne vulgarisumumnya lebih banyak terjadi pada laki -laki
dibandingkan dengan wanita pada rentang usia 15 -44 tahun yaitu 34 % pada laki
-laki dan 27 % pada wanita (Jurnal Kedokteran Media Medika Indonesia, 2008)
Kondisi
tersebut mendorong untuk dilakukannya pengembangan penelitian antibakteri alami
dari tumbuhan yang ada di Indonesia diantaranya adalah daun sirsak. Daun sirsak
memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri penyebab jerawat seperti P.
acnes, S. epidermidis dan S.aureus. Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak
etanol daun sirsak menunjukkan aktivitas antibakteri yang lemah-sedang terhadap
penghambatan pertumbuhan ketiga bakteri tersebut, dengan diameter zona hambat
10-20,3 mm pada rentang konsentrasi ekstrak 0,1-10% (Mulyanti dkk., 2015).
American
Academy of Dermatology mengeluarkan rekomendasi pada tahun 2007 bahwa restriksi
kalori memiliki dampak pada pengobatan acnedan bukti-bukti yang cukup kuat
untuk menghubungkan konsumsi makanan tertentu dengan kejadian acne vulgaris.
Beberapa penelitian menemukan bahwa produk olahan susu memperburuk acne
vulgaris. Produk olahan susu dan makanan lainnya, mengandung hormon 5 α
reduktase dan prekursor DHT lain yang merangsang kelenjar sebasea. Selain itu,
acne vulgarisdipengaruhi oleh hormon dan growth factors, terutama insulin-like
growth factor (IGF-1) yang bekerjapada kelenjar sebasea dan keratinosit folikel
rambut. Produk olahan susu mengandung enam puluh growth factors, salah satunya
akan meningkatkan IGF-1 langsung melalui ketidakseimbangan peningkatan gula
darah dan kadar insulin serum (Indrawan, 2013).
Berdasarkan
sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh tim peneliti dari Harvard School of
Public Healtholeh Prof. Dariush Mozaffarian di Departemen Epidemiologi di HSPH,
orang yang rajin meminum susu secara rutin tiap hari, diperkirakan pasti akan
memiliki jerawat. Menurut para ahli itu, sepertinya pengolahan susu lah yang
menjadi penyebab meningkatnnya kadar hormon dalam susu, hingga resiko untuk
menjadi penyebab jerawat besar pula (Elsany, 2013). Dari survey
dikawasan Asia Tenggara melaporkan kejadian terdapat 40-80% kasus jerawat,
sedangkan di Indonesia, laporan kelompok studi dermatologi kosmetika Indonesia,
menunjukkan terdapat 60% penderita jerawat pada tahun 2006 dan 80% pada tahun
2007 (Husna, 2013) Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Academy of
Nutrition and Dietetics menemukan bahwa pola diet dan pola makan yang dilakukan
seseorang mempengaruhi kemungkinan mereka memiliki jerawat. Wanita yang banyak
makan makanan yang mengandung gula lemak jenuh, lemak trans, dan produk susu
cenderung lebih berkemungkinan memiliki jerawat (Ananda, 2014).
Pola makan yang buruk dapat
memperparah timbulnya jerawat. Sejauh ini, jerawat (acne vulgaris) dinyatakan
berhubungan dengan indeks glisemik suatu makanan. Indeks glisemik merupakan
satuan pengukuran peningkatan gula darah yang disebabkan oleh makanan tertentu.
Konsumsi makanan dengan indeks glisemik yang tinggi (seperti Permen, Soda dan
Soft drink, Es krim, Coklat, Biskuit, Sereal , gula halus, roti,pasta, dan
makanan gorengan) secara terus-menerus dapat menyebabkan obesitas, diabetes,
sakit jantung, tekanan darah tinggi, serta perubahan komposisi dan produksi
sebum yang dapat memicu inflamasi serta jerawat pada kulit.Hal ini dapat
terjadi dikarenakan makanan dengan kadar indexglikemik tinggi, bisa memicu
fluktuasi atau naik turunnya hormon. Salah satunya adalah hormon insulin, yang
bisa mendorong kemunculan sebum, salah satu Penyebab Jerawat (Winarno dan Ahnan
2014).
III. PENUTUP
a. Kesimpulan
Telah
banyak tanaman yang diteliti dan terbukti memiliki aktivitas anti jerawat.
Berdasarkan aktivitas tersebut, tanaman yang memiliki aktivitas anti jerawat
antara lain A.millefolium, A.verox, B.aristata, C.sappan, C.sativa, C.sinensis,
C.longa, C.xanthorrhiza, F.tataricum, L.sericea, M.charantia, P.nigrum,
P.indica, P.granatum, R.officinalis, R.cordifolia, S.aromaticum dan Z.
officinale.
b.
Saran
Beberapa
saran yaitu perlu adanya peningkatan pengetahuan terhadap jerawat, perlu
memperhatikan obat-obat yang digunakan dalam pengobatan jerawat untuk meminimalisir
efek samping obat.
DAFTAR PUSTAKA
Ejournal Keperawatan (e-Kep) Volume 3. Nomor 1. Februari 2015
Indrawan,
Nanda. 2013. Hubungan Asupan Lemak Jenuh
Dengan Kejadian Acne Vulgaris.
Smeltzer,
Sussane C. & Bare, Brenda G (Ed). 2002. Buku
Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Edisi 8 Vol. 2.
Jakarta: EGC
Tjekyan,
R.M.S. (2008). Kejadian dan Faktor Resiko Akne Vulgaris. Jurnal Kedokteran Media Medika Indonesia Vol 43, No.1:37-43.
Winarno,
F. G. & Ahnan, A. D. (2014).Jerawat:
Yang Masih Perlu Anda Diketahui.Yogyakarta: Graha Ilmu
Yuindartanto, A.2009. Acne Vulgaris. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Niceee, lanjutkan
BalasHapusMantap gan
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusWahh bagus bgtt
BalasHapusTerimakasih informasinya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih kak atas infony 😊
BalasHapusSangat bermanfaat!!
BalasHapusTerimakasih kak infonya lanjuutkan :)
BalasHapusKerennn,sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih infonya sangat bermanfaat
BalasHapus